Berapa Peluangmu Bermain Bola pada Level Internasional?

Berita Bola - Dari Albania sampai Zimbabwe, bermain untuk tim nasional negara sendiri adalah impian hampir seluruh bocah laki-laki (dan perempuan) di seluruh dunia.

Banyak perbincangan dan perdebatan mengenai cara untuk terpilih menjadi anggota timnas, yang kebanyakan membahas soal bakat dan pembinaan. Tapi kali ini saya akan mencoba mengesampingkan dua hal penting tersebut. Bukan karena tidak penting, tapi mari kita "keluar dari kotak" untuk melakukan hitung-hitungan.

Jika berbicara tentang menghitung peluang, maka ada baiknya kita istirahatkan pikiran kita dulu sejenak, karena kita akan membicarakan tentang angka-angka statistik.

Sebagai awal perjalanan tulisan ini, terlebih dahulu mari kita ke tempat yang terdekat dari kita: Tim nasional Indonesia.

Untuk bermain pada level timnas kita yang katanya prestasinya bobrok ini saja tentunya bukan perkara mudah. Butuh bakat dan latihan yang tekun untuk bisa sampai kepada level tim nasional senior.

Indonesia adalah salah satu negara yang sudah cukup lama bergabung dengan FIFA. Pertandingan pertama tim nasional Indonesia berlangsung pada 28 Maret 1921 melawan tim nasional Singapura di Batavia. Saat itu Indonesia berhasil menang dengan skor 1-0.

Berapa Pesaing Kita?

Dilihat dari sensus penduduk tahun 2011, ada banyak sekali manusia yang menghuni negara kita ini, yaitu 237.424.363 jiwa yang terbagi (tidak secara merata tentunya) dalam 34 provinsi. Dari jumlah yang terlampau banyak ini, 119.630.913 diantaranya adalah laki-laki dengan usia rata-rata 27,2 tahun.

Jika kita berasumsi bahwa 16 sampai 35 tahun adalah usia ideal untuk bermain sepakbola pada level internasional, maka kita dapat mendapatkan angka 41.870.819. Angka tersebut adalah jumlah jiwa yang harus dipertimbangkan oleh PSSI dalam menyeleksi pemain-pemain tim nasionalnya.

Dari sini saya akan sedikit berasumsi dan melakukan generalisasi dengan menggunakan contoh negara Inggris.

Kontras dengan Indonesia, seorang lelaki warga negara Inggris hanya harus bersaing dengan tujuh juta jiwa lainnya untuk mengenakan seragam The Three Lions. Dan peluang untuk masuk tim nasional tersebut akan semakin tinggi jika kita sudah memasukkan unsur-unsur seperti: tidak semua orang tertarik dengan sepakbola dan banyak diantara mereka tidak memiliki keahlian yang memenuhi standar.

Tapi hitung-hitungan peluang ini bukan melulu soal usia. Memilih posisi yang tepat jadi kunci bisa atau tidaknya kita dipanggil ke tim nasional.
Meskipun tidak ada batasan jumlah penjaga gawang yang bisa dipilih oleh sebuah negara dalam level internasional, para manajer secara tipikal akan memilih 3 orang. Arti kasarnya adalah akan ada sejumlah 627 kiper pada level internasional (3 dari masing-masing negara FIFA).

Dan posisi penjaga gawang inilah yang paling mudah ditembus oleh seseorang yang ingin terpilih masuk timnas.

Peluang Kita untuk Masuk Tim Nasional Indonesia

Sekarang, mari kembali ke perbandingan dengan Inggris. Dari sekitar 9.000 bocah yang masuk ke akademi sepakbola di Inggris pada tahun 2010, hanya 9% yang mendapatkan kesempatan bermain di level tim senior (first team) klubnya. Ini dengan catatan bahwa 78% yang gagal masuk tim senior masih juga bermain sepakbola secara profesional.

Pada tahun 2011, Tottenham Hotspur mengontrak secara profesional 10 bocah yang diseleksi dari 67 akademi setempat. Di atas kertas, statistik menunjukkan bahwa 10 bocah ini terpilih dari 6.000.000 yang tersedia, atau dalam kata lain 1 banding 600.000. Namun krusialnya, di antara anak-anak itu semua hanya 1 yang bermain sebagai penjaga gawang.

Sekarang kita aplikasikan model tersebut ke tim nasional kita, tentu masih sambil banyak berasumsi.

Dari 41.870.819 laki-laki yang bisa diseleksi untuk tim nasional Indonesia, hanya 3.806.438 yang bisa dikatakan cukup baik untuk memenuhi standar penjaga gawang, dengan 56.812,5 (atau satu banding 67) yang memenuhi standar sebagi penjaga gawang yang hebat.

Dengan standar 3 penjaga gawang akan dipilih oleh manajer untuk skuat tim nasional, maka peluang untuk terpilih sebagai penjaga gawang tentu akan "meningkat" yaitu jadi satu banding 18.937

Ini berarti, untuk masuk skuat tim nasional Indonesia sebagai penjaga gawang, kita harus bersaing dengan "hanya" 18.937 orang lainnya. Wow!
Hampir mustahil jika kita tidak memilki bakat dan bekerja keras. Belum lagi jika kita menghitung faktor keberuntungan.


Di Negara Mana Kira-Kira Saya Bisa Bermain?

Memang berat untuk masuk ke tim nasional Indonesia. Padahal, ketika masuk pun kita belum tentu akan bermain sebagai tim utama.

Sebenarnya ada cara lain bagi kita yang terobsesi untuk bermain sepakbola di level internasional. Ada sebuah jalur yang tidak murni berdasarkan pada kemampuan sepakbola kita. Bagaimana? Yaitu dengan cara memilih negara yang tepat sehingga bisa dilirik sebagai pemain naturalisasi. Dengan jalan ini, kita bisa menambah peluang untuk bermain sepakbola pada level internasional.

Jika Indonesia, yang sepakbolanya biasa-biasa saja ini, saja bukanlah "negara yang tepat", lalu negara apa itu?

Dari 209 negara yang terdaftar sebagai anggota FIFA, San Marino (bersama Bhutan dan Kepulauan Turks & Caicos) adalah negara dengan gelar negara terburuk. San Marino baru memenangkan satu pertandingan saja sepanjang sejarah, yaitu saat melawan Liechtenstein pada April 2004.

Jadi, jika kalian adalah pemuda dengan talenta sepakbola yang di atas rata-rata, tapi tinggal di negara dengan populasi yang banyak seperti Indonesia, San Marino bisa menjadi tujuan hidup kalian.

Peluang Bermain untuk San Marino

Berbeda dengan Indonesia, hanya terdapat 31.817 jiwa yang menghuni total 9 castelli di San Marino. Dari jumlah tersebut, 15.343 diantaranya adalah laki-laki dengan usia rata-rata 41,7 tahun.

Jika sama dengan perhitungan sebelumnya kita mengasumsikan usia 16-35 adalah usia ideal untuk membela tim nasional San Marino, maka akan terdapat 5.431 laki-laki yang tersisa.

Lalu, dengan formula yang sama pula, kita akan mendapatkan angka hanya ada 489 laki-laki yang bisa dinilai sesuai standar sebagai pesepakbola yang baik. Dari jumlah itu, hanya 7,29 laki-laki saja yang memenuhi standar sebagai penjaga gawang.

Kembali pada acuan standar ada 3 penjaga gawang yang biasa dibawa oleh manajer tim nasional. Maka, peluang seseorang untuk terpilih mengerucut menjadi satu banding 2,4. Itu artinya, kita "hanya" harus bersaing dengan maksimal 3 orang saja untuk bisa menjadi salah satu anggota penjaga gawang tim nasional San Marino. Lagi-lagi: Wow!

Semudah Itukah?

Jika kita lagi-lagi mengesampingkan bakat, maka masalah selanjutnya adalah: apakah semudah itu untuk memperoleh paspor kewarganegaraan San Marino?

Andaikan kalian beruntung untuk lahir di sana, atau orang tua kalian berasal dari sana, kalian mungkin akan mendapatkan kemudahan dalam perizinan. Namun, jika kalian sekonyong-konyong memang ingin pindah kewarganegaraan menjadi San Marino, urusannya akan jadi sangat panjang.

Kalian harus menyerahkan status kewarganegaraan kalian sepenuhnya kepada San Marino dan setidaknya sudah tinggal selama 30 tahun di negara. Hal itu terlihat jelas mustahil, bahkan jika sekarang kalian masih sangat muda sekalipun.

Untuk mendapatkan status kewarganegaraannya saja kalian harus membuang banyak waktu, sehingga tidak ada cukup waktu untuk bermain pada level internasional bersama tim nasional San Marino.

Tapi, jika memang benar-benar berniat melakukan hal ini, setidaknya kalian akan memberikan kesempatan untuk keturunan kalian untuk bermain sepakbola pada level tertinggi... bersama negara level terendah.

0 komentar:

Posting Komentar